Translate

Kamis, 10 Mei 2012

Muslim : MANUSIA PERTAMA PADA PANDANGAN ISLAM

A.   Latar Belakang.
Dimanapun kita berada sebagai umat beragama khususnya umat islam tetap mengakui manusia pertama adalah nabi Adam as dan ini tidak bisa dipungkiri oleh umat islam kecuali hatinya telah tertutup dan jauh tertinggal dari hukum dan ajaran dalam islam yang senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan Hadist.Yang ingin diuraikan di sini adalah dari mana asal sang manusia pertama itu ?
manusia itu dicipta daripada jiwa yang satu. Apa yang disebutkan di dalam al-Quran ialah manusia itu diciptakan daripada jenis yang sama dengannya juga. Seorang manusia tentunya ibu bapanya manusia juga bukan makhluk yang lain.
Ini berawal ketika Allah berfirman kepada malaikat akan menjadikan seorang makhluk untuk menjadi khalifah di muka bumi yaitu dalam surat al Baqarah ayat 30 yang artinya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Melihat konteks ayat di atas sebenarnya manusia di ciptakan sebagai khalifah merupakan satu anugrah sebagai satu makhluk yang diciptakan lebih sempurna dari makhluk-makhluk lainnya, dan sebagai khalifah juga mempunyai tanggung jawab yang besar bagi umat,dan alam sekitarnya.
Sehubungan dengan penciptaan manusia pertama di dalam Al-Quran terdapat di dalam beberapa surah yang kebanyakan ayat menyatakan bahawa manusia adalah dicipta daripada tanah. Sudah tentu penciptaan ini mempunyai tujuan tersendiri.Sebagaimana firman Allah yang artinya :
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sabaik-baiknya. Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya” Surah Nuh (71): 17 –18
Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain” Suran Thaha (20): 55

Para ahli tafsir mengartikan ayat2 tersebut di atas bahwa aspek spiritual mengenai asal-usul kejadian manusia dari tanah ialah menekankan bahwa manusia akan kembali kepada tanah ketika mati. Selain itu para ahli tafsir juga mengartikan kepada hari dibangkitan manusia di hari penghisaban atau hari perhitungan. Banyak dalam Alquran kita temukan fase atau tingkatan awal penciptaan manusia Adam,yang coba ingin di paparkan disini.
Awal peciptaan manusia itu adalah sari pati tanah asli seperti dalam surat Al Mu’minun ayat 12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Para ahli tafsir menafsirkan bahwa sari pati tanah itu sudah merupakan proses penyaringan dan bukan dari tanah biasa sebagaimana yang kita fikirkan. Ini sangat sesuai dengan kemuliaan yang diberikan oleh Allah S.W.T kepada manusia. Dari aspek lain dipaparkan juga adalah kebesaran Allah S.W.T dalam penciptaan makhluknya dan Dia sebagai Khaliqnya.
Dan ini dapat di katakan fase terakhir proses peciptaan adam sebagai manusia pertama setelah mengalami fase-fase sebelumnya yaitu peniupan ruh. Ini adalah fase terakhir proses penciptaan manusia pertama(Adam) dari aspek spiritual, setelah aspek fisiknya telah lengkap hingga ke tahap menjadi satu komponen wujud manusia.
Ruh mulanya masuk melalui hidung kemudian naik ke otak, kemudian mengisi kepala dan leher, kemudian turun ke dada dan pusat, kedua tangan dan kaki sampai tersebar keseluruh tubuh membentuk darah. Allah menciptakan manusia dengan sempurna yaitu diberikannya bentuk tubuh yang baik, akal pikiran dan nafsu, kemudian manusia itu sendiri yang menentukan mampu atau tidaknya menggunakan pemberian Allah dengan baik.
Ruh sebagai power untuk menghidupkan seluruh anggota badan, Akal sebagai alat untuk menerima ilmu pengetahuan atau untuk mengetahui hakikat sesuatu secara logis tanpa mempertimbangkan hal-hal yang irasional, anggota tubuh seperti panca indra yang hanya dapat merealisasikan secara indrawi tanpa mempertimbangkan penghalangnya. Dari semua anggota tubuh manusia hanya hati yang dapat menerima sesuatu yang mutlak dari Allah swt yang maha kuasa karena hati adalah sebagai tuan dari anggota tubuh, semua aktivitas anggota tubuh digerakkan oleh hati dan hati hanya  Allah swt yang menggerakkannya. ini yang dapat di uraikan dan semoga ini bermanfaat adanya dan kalau ada salah kata dalam penjelasannya itu hanya kekurangan penulis semata (Al_quranurkarim, Tasfsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Qurtubiyy)

1. Adam
Adam (Ibrani: אָדָם; Arab:آدم, berarti tanah, manusia, atau cokelat muda) (sekitar 5872-4942 SM) adalah dipercaya oleh agama-agama Samawi sebagai manusia pertama, bersama dengan istrinya yang bernama Hawa. Menurut Agama Samawi pula, merekalah orang tua dari semua manusia yang ada di dunia. Rincian kisah mengenai Adam dan Hawa berbeda-beda antara agama Islam, Yahudi, Kristen, maupun agama lain yang berkembang dari ketiga agama Abrahamik ini.

2. Adam menurut Islam
Adam hidup selama 930 tahun setelah penciptaan (sekitar 3760-2830 SM), sedangkan Hawa lahir ketika Adam berusia 130 tahun. Al-Quran memuat kisah Adam dalam beberapa surat, di antaranya Al-Baqarah [2]:30-38 dan Al-A’raaf [7]:11-25. Ia mendapat gelar dari Allah swt dengan gelar Safi Allah.
Menurut ajaran agama Samawi, anak-anak Adam dan Hawa dilahirkan secara kembar, yaitu, setiap bayi lelaki dilahirkan bersamaan dengan seorang bayi perempuan (kembar). Adam menikahkan anak lelakinya dengan anak gadisnya yang tidak sekembar dengannya.
Menurut Ibnu Humayd, Salamah, Ibnu Ishaq, anak-anak Adam adalah: Cayn dan saudara perempuannya, Abel dan Labuda, Ashut dan saudara perempuannya. Seth dan Hazura, Ayad dan saudara perempuannya, Balagh dan saudara perempuannya, Athati dan saudara perempuannya, Tawbah dan saudara perempuannya, Darabi dan saudara perempuannya, Hadaz dan saudara perempuannya, Yahus dan saudara perempuannya, Sandal dan saudara perempuannya, Baraq dan saudara perempuannya. Total keseluruhan anak Adam sejumlah 40 anak kembar..

3. Wujud Adam
Menurut hadits Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Adam memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta (kurang lebih 27,432 meter). Hadits mengenai ini pula ditemukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad, namun dalam sanad yang berbeda.
Menurut ajaran Islam, Adam adalah manusia sempurna, berjalan tegak dengan kedua kakinya, berpakaian yang menutup aurat, berbahasa fasih dengan jutaan kosa kata. Dia adalah seorang nabi yang menerima wahyu dari Allah serta syariat khusus untuk manusia saat itu.
Sosok Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia adalah makhluk penghuni surga yang penuh peradaban maju. Turun ke muka bumi bisa dikatakan sebagai alien dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan jauh lebih cerdas.
Karena itulah disebut sebagai `khalifah` di muka bumi dan ia dikatakan jenis makhluk terbaru di muka bumi yang sebelumnya belum pernah ada. Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik.
Bahkan konon, dahulu ketika baru selesai diciptakan, seluruh malaikat bersujud kepadanya atas perintah Allah, lantaran kecerdasannya itu. Kecerdasannya menjadikannya makhluk yang punya derajat amat tinggi di tengah makhluk yang pernah ada. Sama sekali berbeda jauh dari gambaran manusia purba-nya Charles Darwin, yang digambarkan berjalan dengan empat kaki dan menjadi makhluk purba berpakaian seadanya.

4. Adam sebagai Khalifah

Substansi dari dialog dengan malaikat (Q.s. al-Baqarah: 30-31 ) adalah penegasan bahwa sesungguhnya Allah sebagai Pencipta atau Penjadi khalifah di muka bumi ini. Kata “jaa`ilun” sebagai konstruksi isim fa`il yang berarti subyek pelaku dalam frasa Innii jaa’ilun fi al-ardhi khaliifah tidak harus diartikan “hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. Seandainya arti ini yang dipahami, maka tidak ada khalifah sebelum Adam. Konseksuensi logisnya, Adam adalah manusia pertama.

Seandainya frasa tersebut dikembalikan pada makna asalnya sebagai isim fa‘il, maka hal itu mengisyaratkan bahwa Allah—sebelum atau sesudah terjadinya dialog dengan malaikat sebagaimana yang termaktub dalam ayat tersebut—selalu menjadikan khalifah di muka bumi. Dengan demikian, Adam bukanlah khalifah yang pertama dan bukan pula manusia yang pertama yang diciptakan Allah.
Kita hanya bisa menduga-duga kategori khalifah yang seperti apakah yang telah melakukan perbuatan tercela itu. Tidak ada keterangan yang jelas perihal khalifah versi malaikat yang dimaksud. Al-Qur’an dalam Q.s. Shaad: 67-73 dengan tegas menyatakan untuk tidak memperpanjang bantahan ini.
Ada riwayat yang mengasumsikan bahwa iblis atau jin sebagai khalifah sebelum Adam. Qatadah, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas menduga, bahwa khalifah yang dimaksud adalah khalifah dari golongan jin yang diduga berbuat kerusakan. Asumsi ini berdasarkan analisis ayat yang menerangkan bahwa jauh sebelum manusia diciptakan, Allah telah menciptakan jin (Ibnu-Katsir, Qishashul Anbiya’, hlm. 2).
Benar bahwa jin (dan malaikat) diciptakan sebelum Adam berdasarkan Q.s. al-Hijr: 26-27, namun apakah mereka—khususnya para jin—berperan sebagai khalifah di muka bumi? Pendapat para sahabat tersebut tampaknya hanyalah praduga saja. Lagi pula tidaklah mungkin bumi yang kasat mata ini diwariskan kepada para jin yang tidak kasat mata. Bentuk pengelolaan semacam apakah seandainya para jin yang berfungsi sebagai khalifah di muka bumi ini.
Khalifah sebelum Adam dan khalifah yang hendak diciptakan Allah ini adalah khalifah yang benar-benar berasal dari golongan manusia. Perhatikan arti ayat berikut ini: Dan Dialah yang telah menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat ‘iqab-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (Q.s. al-An’am: 165).
Ayat tersebut kembali menegaskan bahwa sesungguhnya Allah adalah pencipta para khalifah di muka bumi ini.
B.   Landasan teori

Dalam dunia science teori evolusi Charles Darwin sangat terkenal. Bahkan
walaupun hanya merupakan suatu kesimpulan yg tak terbukti sama sekali banyak orang yang mempercayainya karena ia berbaju science. Padahal science sendiri yang dulunya dipercaya benar ternyata kemudian terbukti salah. Salah satu dampak dari teori evolusi yang sesat itu adalah mengikis iman akan adanya Sang Pencipta. Dengan begitu secara tak disadari seseorang yang mempercayai teori evolusi akan dikikis imannya terhadap adanya Sang Pencipta. Sebagai muslimin kita harusnya mengembalikan hal ihwal penciptaan ini kepada Sang Pencipta itu sendiri Allah swt. Tentunya jika disuruh memilih harus percaya siapa tentunya kita harus percaya kepada Allah. Inilah yang harus menjadi landasan berpikir dan keyakinan kaum muslimin dalam mengetahui asal muasal penciptaan manusia. Dalam hal ini Allah telah mewahyukan kepada Nabi Muhammad saw dalam Alquran dalam beberapa surat dan ayat di antaranya adalah ayat yang kita sebutkan di atas. Ayat-ayat di atas menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia pertama kali dari tanah dan menyempurnakan bentuknya. Kemudian dari satu manusia itu-yakni Adam ‘Alaihissalam-Allah menciptakan istri bagi Adam kemudian dari keduanyalah Allah mengembangbiakkan manusia. Bahkan hal itu sangat jelas dan mudah dipahami oleh siapa pun yang mau sejenak menggunakan otaknya degan baik.

C.     Kesimpulan
Bahwa manusia yang ada di bumi ini mempunyai peran yang amat sangat penting, seperti Adam as, yang merupakan manusia pertama yang diciptakan Allah swt dan juga menjadi khalifah di bumi. Maka bersyukurlah kita menjadi makhluk tuhan yang paling dihormati oleh seluruh mahkluk Allah swt. Dengan melihat pentingnya peran kita di bumi ini, manfaatkanlah waktu hidup yang singkat ini dengan segala sesuatu yang baik menurut norma, ajaran, aturan dalam agama kita, yaitu agama islam. Walau manusia tidak ada yang luput dari dosa, tetaplah kita harus menahan hawa nafsu yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar